Ca Bau Kan; Potret Kecil Perempuan Indonesia

Ca Bau KanBatavia, tahun 1933 masih merupakan daerah pelabuhan yang ramai oleh transaksi perdagangan, bukan hanya dilakukan oleh saudagar mancanegara, namun juga rakyat pribumi lain daerah dari berbagai pulau di Nusantara. Impact sosial dari adanya penjajahan dari Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari 300 tahun sangat dirasakan oleh rakyat Batavia. Sebagai kawasan salah satu sentral perdagangan di nusantara, Batavia tumbuh menjadi daerah yang maju dalam pembangunan infrastruktur pembangunannya, namun ironisnya, perkembangan tersebut hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang pribumi saja yang menjadi teman bangsa kolonial, penjajahan atas bangsa sendiri menjadi problematika kontradiktif bagi bangsa Indonesia. Di tengah-tengah kondisi yang demikian, seorang wanita desa yang sebenarnya polos, lugu yaitu Siti Nurhayati atau lebih akrab dipanggil Tinung menghadapi situasi yang sangat sulit. Dia, dengan dipaksa oleh keadaan yang ada mau tidak mau harus merelakan tubuhnya dieksploitasi oleh keserakahan kaum lelaki.

Cerita ini berawal ketika seorang Tinung ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil, keadaan yang demikian oleh keluarga suaminya dianggap karena Tinung membawa mala petaka. Sakit hati, merasa menderita fisik dan bathin, kemudian Tinung hanya bisa bersikap pasrah menerima keadaan yang ada. Kondisi keluarga yang teramat papa, juga berada pada lingkungan yang sudah rusak moral dan etika masyarakatnya, Tinung seakan mengikuti arah mata angin ke mana berhembus. Continue…